Selasa, 31 Mei 2011


Assalamu Alaikum, Wr, Wb….
Alhamdulillah setelah melalui perjalanan yang panjang   agar dapat mengungkap kembali sejarah Benakat, akhirnya atas bantuan sahabat saya YUNIZAR,ST, saya dapat kembali memperbarui menulis sejarah ini. Yang mana pada awalnya buku Benakat Sepanjang Zaman di gali dan ditulis oleh sebuah Tim yang dipimpin langsung oleh Pasirah Kepala Marga Benakat yaitu Bpk. M.Yusuf Ismail (alm). Yang mana pada awalnya sejarah ini di ambil dari kulit kayu Karas dan di terjemahkan oleh penerjemah kepurba kalaan (Bpk. Nur Ansyorie)
Dengan telah diterbitkannya blog ini, kami berharap agar kita semua dapat mengetahui asal usul dan asal muasal Benakat yang kita banggakan ini. Dan semoga para kawula muda mengetahui, sehingga tidak meraba-raba. Sebab sejarah tidak bisa hanya katanya dan kamipun tidak berani menuliskannya tanpa bukti-bukti yang akurat. Agar tidak terjadi kesimpang siuran sejarah.
Sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungannya kepada kami atas penulisan Sejarah Benakat Sepanjang Zaman ini. Tanpa bantuan dan dukungan dari semua pihak, pekerjaan ini tidakk akan berjalan dengan sempurna. Kami sadar betul bahwa sejarah Benakat tidak hanya sampai disini saja. Masih banyak yang belum terungkap. Sengaja saya menulis Benakat Sepanjang Zaman ini, karena inilah awal dari sejarah Benakat. Untuk itu kami sangat memerlukan bantuan dan dukungan dari semua pihak agar dapat memberikan partisipasinya dalam mengungkap sejarah Benakat.
Demikianlah ungkapan dari kami dan mudah-mudahan sejarah Benakat Sepanjang Zaman ini dapat berguna bagi kita semua, khususnya bagi kawula muda Benakat.

                                                                                    Benakat, 30 Mei 2011
                                                                                                Penulis


                                                                                            DEVIANTO


BENAKAT SEPANJANG ZAMAN
            Konon dahulu kala (±1312 M), dua orang pemuda kakak adik yaitu KAMALUDDIN dan MUHAMMAD YUSUF datang ke KUTE MUAHE HENING (saat ini bernama MUARA ENIM). Bahwa menurut cerita yang tertulis pada kulit kayu KARAS, mereka datang dari KUTE JUMBAI yang sekarang dikenal dengan KOTA JAMBI. Dalam perjalanannya mereka berjumpa dengan SYEKH JALALUDDIN yang pada saat itu telah berada di Kute Muahe Hening. Adapun Syeh Jalaluddin berada di Kute Muahe Hening dalam rangka penyebaran agama Islam. Atas persetujuan bersama Muhammad Yusuf diperintahkan oleh Syeh Jalaluddin untuk menjumpai Syeh Angkasa Ibrahim Papa yang pada saat itu telah berada dan menetap di Kute Tanjungan Raman. Sedangkan Kamaluddin tinggal bersama Syeh Jalaluddin di Kute Muahe Hening. Mereka masing-masing memperdalam ilmu agama.

            Dalam kurun waktu satu tahun, yaitu pada tahun 1313 M, Kamaluddin dipandang telah cukup mendapatkan didikan dari sang Guru Syeh Jalaluddin. Maka pada tahun itu pula beliau diperintahkan oleh gurunya untuk mencari tempat menetap guna penyebaran agama Islam. Atas perintah  itulah Kamaluddin lalu pergi mengembara untuk mulai menyebarkan agama Islam. Beliau berangkat dari Kute Muahe Hening dengan menggunakan perahu. Beliau berangkat mengikuti arus sungai Lematang.

            Dalam perjalanannya tersebut Beliau teringat akan adiknya yang saat itu sedang menuntut ilmu dibawah asuhan Syeh Angkasa Ibrahin Papa di Kute Tanjungan Raman. Sesampainya beliau di Perairan Tanjungan Raman beliau langsung menuju ke kediaman Syeh Angkasa Ibrahim Papa untk bertemu dengan adiknya yang bernama Muhammad Yusuf. Singkat cerita, setelah melepaskan rindu karena lama tak berjumpa mereka lantas menghadap Syeh Angkasa Ibrahim Papa untuk meminta restu bahwasanya mereka berniat untuk menyebarkan agama islam.

            Setelah mendengarkan  dan mempertimbangkan niat yang mulia dari kakak adik tersebut dan dipandang oleh Syeh Angkasa Ibrahim Papa bahwa Muhammad Yusuf telah cukup dan layak untuk menyebarkan ajaran-ajaran Islam, beliau memberikan restu kepada keduanya.

            Akhirnya setelah semua persiapan perbekalan telah cukup mereka  mohon pamit kepada Syeh Angkasa Ibrahim Papa. Mereka bedua lantas pergi mengaruni sungai Lematang yang saat itu arusnya sangat deras dengan menggunakan perahu. Dalam perjalanan hati mereka bertanya-tanya, “kemana tujuan mereka”. Sementara perahu yang mereka tumpangi terus melaju mengikuti derasnya arus sungai Lematang. Berliku-liku dan berkelok-kelok tanpa hentinya mengalir, seakan menunjukkan keangkuhannya.

 Tak terhitung lagi telah berapa liku dan kelokan yang mereka lalui. Nampak dikiri kanan berdiri dengan megahnya hutan rimba belantara. pertanda tanahnya yang subur, yang belum terjamah oleh tangan manusia.

            Dalam perjalanannya, mereka menemukan sebuah tebing yang agak landai. Merekapun lantas berhenti karena terpikat dengan keindahan tempat tersebut. Mereka sepakat untuk singgah di tempat itu, perahu merekapun menepi untuk menggapai tebing landai itu. Setelah menambatkan perahu mereka pada sebatang pohon yang rindang dan sangat tinggi. Kebetulan saat itu waktu sholat Zuhur telah tiba. Setelah berwudhu, mereka melaksanakan sholat zuhur bersama di tebing yang agak tinggi dibawah sebatang pohon yang rindang.

            Setelah sholat mereka beristirahat sambil melepas lelah merebahkan diri dibawah pohon tersebut. Tanpa sadar mereka lantas tertidur dengan nyenyaknya.

            Diceritakan pula karena terlalu lelah mereka tidur hingga hari menjelang senja. Bahkan tanpa sadar mereka bertanya, sedang dimana mereka saat itu. Dengan spontan pula Muhammad Yusuf menyatakan keinginannya pada kakaknya Kamaluddin untuk membuka hutan belukar itu untuk dijadikan tempat tinggal.

            Semalam suntuk mereka berdua membabat hutan tersebut untuk dijadikan tempat tinggal. Merekapun lantas mendirikan pondok sebagai tempat berlindung. pekerjaan mereka selesai setelah fajar menyingsing. Mereka lantas melaksanakan sholat subuh di pondok yang baru mereka bangun setelah semuanya rampung. Muhammad Yusuf lantas mengatakan bahwa ia akan member nama tempat itu dengan nama KUTE TEDUNAN. Yang mana artinya adalah TEMPAT BERLINDUNG (sekarang bernama ULAK BANDUNG marga PENAGGIRAN kecamatan Gunung Megang). Sedangkan Ulak Bandung artinya adalah DUA ULAK YANG TERPANDUNG atau TERBENDUNG yang hingga saat ini dapat dibuktikan kebenarannya.

            Setelah Muhammad Yusuf menguasai sepenuhnya Kute Tedunan beliau diberi gelar oleh gurunya (Syeh Angkasa Ibrahim Papa) dengan gelar JAKA THALIB yang artinya Pemuda yang gagah perkasa. Jadilah nama lengkapnya MUHAMMAD YUSUF JAKA THALIB. Singkatnya, setelah Muhammad Yusuf Jaka Thalib memerintah di Kute Tedunan, beliau lantas menikahi seorang Putri dari Kute Muahe Hening (Muar Enim) yang bernama SITI MARYAM. Seorang anak tunggal dari Hulu Balang Kute Muahe Hening. Dari perkawinan ini beliau di anugerahi seorang anak yang diberi nama MUHAMMAD  FAQIH RATU ALAM.


            MUHAMMAD YUSUF  JAKA THALIB meninggal dunia pada tahun 1436 M. Beliau digantikan oleh putranya MUHAMMAD FAQIH RATU ALAM. Konon beliau adalah putra tunggal dari Muhammad Yusuf Jaka Thalib. Menurut cerita Muhamma Faqih Ratu alam menikahi seorang putri yang berasal dari pulau Jawa yang bernama SANDIYAH. Beliau juga di karuniai seorang putra tunggal yang diberi nama SULAIMAN. Konon meurut cerita Muhammad Yusuf Jaka Thalib mempunyai dua orang isteri. Muhammad Faqih Ratu Alam adalah putra dari isteri yang pertama, sedangkan dari isteri yang kedua beliau dikaruniai seorang putra dan seorang putri yang masing-masing diberi nama MUHAMMAD SOLIHIN AGUNG SAKTI dan SITI HAMIDAH. Diceritakan pula bahwa Siti Hamidah menikah dengan seorang ulama dari   KUTE AUR DURI (saat ini dikenal dengan dusun GUCI marga TEMBELANG UJAN MAS Kecamatan Muara Enim).

            Kembali pada cerita Kamaluddin, setelah semalam suntuk beliau membantu adiknya Muhammad Yusuf Jaka Thalib membuka hutan dan membangun tempat tinggal beliau meneruskan perjalanan menelusuri sungai Lematang dengan perahu yang digunakan sebelumnya. Berliku-liku telah ia lewati. Sepanjang perjalanan masih Nampak hutan rimba yang megah dan gagah pada kiri-kanan sungai Lematang. Lama beliau menyusuri dan mengikuti arus deras sungai Lematang. Dan pada sebuah tanjungan yang belum dikenalnya itu beliu singgah untuk beristirahat setelah menambatkan perahu miliknya pada akar sebatang pohon yang rindang. Beliau memperhatikan tanah hutan rimba tersebut yang membentuk tanjungan itu. Namun tanpa disangka, dalam hutan tersebut telah ada manusia-manusia yang hidupnya bergerombol seolah merupakan suatu golongan-golongan yang terpisah-pisah. Kehidupan mereka masih sangat primitif sekali. Mereka berkeliaran dalam hutan-hutan rimba disekitar tanjungan itu. Yang mana terdapat banyak makanan. Mereka tidak mengenal bercocok tanam. Sedangkan bentuk tuguh mereka besar dan kekar dan berkulit hitam mengkilat. Saat mereka berjumpa dengan Kamaluddin, mereka berlari dengan cepat sekali dan memanjat pohon yang sangat tinggi. Untuk menyembunyikan diri.

            Melihat kenyataan itu Kamaluddin heran, namun beliau juga tertarik dengan perilaku mereka. Dan untuk mengetahui lebih jauh keadaan tersebut, beliau lantas memperhatikan setiap pohon-pohon yang besar disekitarnya. Ternyata diatas pohon-pohon tersebut beliau melihat ada manusia-manusia yang bersembunyi. Mereka memanjat pohon-pohon yang tinggi dan besar. Akhirnya beliau memutuskan untuk membuka hutan rimba tersebut untuk menetap dan membuat tempat tinggal. Hal ini dimaksudkan untuk mengenal lebih dekat dengan penduduk primitif ini. Padahal beliau sama sekali tidak mengenal hutan rimba tersebut.

Yang pertama beliau lakukan adalah membuat pondok untuk tempat berteduh serta tempat beliau melaksanakan ibadah. Selanjutnya beliau membabat hutan rimba tersebut untuk membuat lahan becocok tanam. Setelah selesai membabat hutan belantara tersebut seorang diri, beliaupun member nama tempat itu dengan nama “KUTE NAKAT” yang berarti naik pohon yang tinggi. Karena dalam kenyataanya, penduduk asli hutan rimba tersebut bila bertemu dengan orang langsung melarikan diri dengan memanjat pohon yang besar lagi tinggi. Jadi NAKAT artinya NAIK BERSEMBUNYI.

            Selanjutnya Kute Nakat dikenal dengan nama BENAKAT (Marga Benakat). Beliau baru bisa menguasai Kute Nakat sepenuhnya pada tahun 1314 M setelah melalui perjuangan yang sangat berat dan panjang. Yang mana beliau mengadu kekuatan dengan kepala suku orang hutan tersebut yang mempunyai kesaktian luar biasa. Adapun nama kepala suku tersebut bernama SANDAU. Orang ini sangat terkenal karena kasaktiannya yang luar biasa.

            Setelah menaklukkan Sandau, beliau langsung mengislamkannya dan mengganti nama SANDAU dengan nama Islam yaitu, ABDUL RASYID. Sejak saat itu, pengikut-pengikut Sandau atau Abdul Rasyid berangsur-angsur mengikuti jejak Sandau atau Abdul Rasyid dan selanjutnya menjadi pengikut Kamaluddin yang paling setia.

            Sejak kemenangan Kamaluddin dalam menaklukkan Sandau, beliau menjadi sangat terkenal dan beliau diberi gelar oleh gurunya Syeh Angkasa Ibrahim Papa dan Syeh Jalaluddin dengan gelar SAKTI ALAM. Sejak saat itu pula Kamaluddin Sakti Alam dikenal sebagai Mubaligh yang gagah berani, disegani oleh lawan maupun lawan.

            Beliau berhasil mengembangkan Kute Nakat yang lebih sempurna. Dilaksanakan dengan teratur dan ditingkatkan lagi pengerjaannya dengan cara bergotong royong. Panen melimpah sehingga Kute Nakat hidup makmur.

            Kamaluddin Sakti Alam meniggal dunia pada tahun 1432 M, beliau digantikan oleh putranya yang bernama “MUHAMMAD ISYA RATU ANOM”. Semasa kekuasaan Muhammad Isya Ratu Anom inilah Kute Nakat makin pesat kemajuannya. Baik agama Islam maupun dibidang pertaniannya. Pada masa inilah Kute Nakat mengalami masa jayanya. Dimana pada masa itu banyak orang yang berduyun-duyun dating ke Kute Nakat untuk mencari penghidupan yang lebih layak. Bukan itu saja, pada masa ini banyak pula pemuka-pemuka dan tokoh-tokoh agama yang datang ke Kute Nakat sekedar untuk melihat kemajuan yang telah dicapai di Kute Nakat.

            Sepeninggal Muhammad Isya Ratu Anom, beliau digantikan oleh putra tunggalnya yang bernama “SOMAD SAKTI DALAM”. Muhammad Isya Ratu Anom meninggal pada tahun 1467 M. Somad Sakti Dalam terkenal dengan nama “SOLEH AMBAR”, yang artinya “SEORANG ALIM YANG PEMURAH”.

Pada masa kepemimpinan Somad Sakti Dalam (Soleh Ambar) yaitu pada tahun 1472 M, GARANG SAKTI JAKA ADI PATI dan seorang sahabatnya yang bernama RADEN CILI putra dari raja GUNG BUNGKUK (BENGKULU) serta MUHAMMAD FATHONI SEGENCAR ALAM yang memerintah di Kute Alam (Pagar Alam), berkunjung ke Kute Nakat.

            Kedatangan para penguasa dari daerah lain  ini disambut gembira oleh penguasa Kute Nakat (Abdul Somad Sakti Dalam). Mereka mengadakan pertemuan di Kute Nakat dalam rangka penyebar luasan pengaruh ajaran agama Islam, serta dapat di terapkan di Bukit Seguntang. Karena pada saat itu pengaruh ajaran Hindu dan Budha masih sangat kuat sekali di Bukit Seguntang. Mereka (Abdul Somad Sakti Dalam, Garang Sakti Jaka Adipati, Raden Cili dan Muhammad Fathoni Segencar Alam) mengatur strategi untuk menyerang Bukit Seguntang dari Kute Nakat. Pada saat itulah diikrarkan supah setia :

“SERASAN, SEGUNDANG, SETUNGGUAN”

Selanjutnya pada pertemuan yang berlangsung di Kute Nakat itu mereka telah mengambil keputusan sebagai berikut :
1.      Mengadakan serangan secara serentak dan bersama-sama, sasaran utama adalah bukit seguntang.
2.      Mengangkat Garang Sakti sebagai Panglima untuk menyerang Bukit Seguntang.
Namun sebelum serangan ke Bukit Seguntang dilaksanakan, tiba-tiba secara tiba-tiba datang seorang kurir dari Gunung Bungkuk. Kurir tersebut dating ke Kute Nakat untuk menyampaikan berita kepada Raden Cili bahwa Gunung Bungkuk mendapat serangan secara besar-besaran serta secara tiba-tiba dari raja Pagar Kuyung. Utusan tersebut menceritakan bahwa Putri Gading Cempaka, yaitu adik kandung dari Raden Cili telah diculik oleh Hulu Balang Raja Pagar Kuyung.
Berita duka yang disampaikan oleh utusan khusus dari Gunung Bungkuk tersebut benar-benar mengejutkan Raden Cili. Saat itu juga Raden Cili beserta ketiga sahabatnya, yaitu : Garang Sakti Jaka Adi Pati, Abdul Somad Sakti Dalam dan Muhammad Fathoni Segencar Alam, berangkat meninggalkan Kute Nakat. Dan untuk sementara waktu mereka menunda waktu untuk penyerangan ke Bukit Seguntang.
Abdul Somad Sakti Dalam meninggal dunia pada tahun 1485 M. Beliau digantikan oleh putranya yang bernama,
“MUHAMMAD KABUL AGUNG SAKTI”.

DITERANGKAN BAHWA Muhammad Kabul Agung Sakti beristerikan seorang putrid yang berasal dari Muara Takus bernama Siti Aisyah. Dari pernikahan tersebut beliau mendapatkan tiga orang putra dan dua orang putri.
1.      MUHAMMAD ISHAK SINGA ALIT
2.      SYAMSUDDIN MENAK ANOM
3.      HANAFI BAGUS MATARAM
4.      PUTRI MAYANG SERUNTI
5.      PUTRI KINDANG SERANTI
Sedangkan Sti Aisyah sendiri (Isteri Muhammad Kabul Sakti) adalah anak dari saudagar Islam di Muara Takus yang bernama KIMAS HASANUDDIN.

            Dalam kisah selanjutnya diceritakan bahwa setelah Muhammad Kabul Agung Sakti menguasai Kute Nakat, Agama Islam terus berkembang pesat. Sedangkan kelima putra-putrinya masing masing mentap di :
1.      MUHAMMAD ISHAK SINGA ALIT                     : menetap di Kute Nakat
2.      SYAMSUDDIN MENAK ANOM                           : menetap di    Muara Takus
3.      HANAFI BAGUS MATARAM                               : menetap di Kute Jati
4.      PUTRI MAYANG SERUNTI                                   : menetap di Pangkul
5.      PUTRI KINDANG SERANTI                                  : menetap di Kute Padang
Muhammad Kabul Agung Sakti meninggal pada tahun 1502 M. beliau digantikan oleh putranya yang bernama Muhammad Ishak Singa Alit. Singkat cerita Muhammad Ishak Singa Alit menikah dengan seorang putri yang berasal dari Tanjungan Iran, bernama “WASILAH”. Dari perkawinan tersebut beliau mendapatkan empat orang putra dan seorang putri. Adapun putra-putrinya tersebut adalah sebagai berikut :
1.      MUHAMMAD SAID PUTTING ALAM           : menetap di Kute Nakat
2.      MUHAMMAD SALEH SINDANG RATU       : menetap di Kute Tanjung Iran
3.      MUHAMMAD ADIL ALAM PASAI                : menetap di Kute Pasai
4.      MUHAMMAD ALI DALOM SUNTING          : menetap di Kute Embacang
5.      PUTRI MELUR MELANI                                  : menetap di Mataram, pulau Jawa
Cerita mengenai adik kandung dari Muhammad Ishak Singa Alit  yang bernama Syamsuddin Menak Anom terputus, hingga tidak diketahui lagi ceritanya. Kini kita lanjutkan cerita tentang Hanafi Bagus Mataram yang menetap di KUTE JATI.
Pada tahun 1495 M, Hanafi Bagus Mataram beristerikan seorang putri yang berasal dari KUTE NUKAL yang bernama BASIAH. Setelah menikahi Basiah, Hanafi Bagus Mataram diperintahkan oleh orang tuanya (Muhammad Kabul Agung Sakti) yang pada masa itu sedang berkuasa di Kute Nakat untuk mengembangkan agama Islam. Kemudian Hanafi Bagus Mataram pergi mengembara dengan isterinya untuk menyebarkan agama Islam.

Dalam perjalanan pengembaraannya, mereka berhenti sejenak sekedar untuk beristirahat di sebuah hutan rimba yang lebat. Namun tanpa disangka, isteri Hanafi Bagus Mataram meminta kepada dirinya agar membuka saja hutan belantara tersebut untuk dijadikan lahan pertanian dan tempat tinggal. Hanafi Bagus Mataram menyetujui permintaan isterinya tersebut. Dengan bersemangat Hanafi Bagus Mataram membuka lahan hutan belantara tersebut demi memenuhi keinginan sang isteri.
Konon dari perkawinannya, mereka hanya dikaruniai seorang putra tunggal yang diberi nama ABDUL HAMIMI PARBU CILI. Muhammad Hanafi Bagus Mataram meninggal pada tahun 1530 M.
Kini kita kembali lagi dengan cerita Muhammad Ishak Singa Alit yang sempat tertunda diatas. Pada masa kekuasaan Muhammad Ishak Singa Alit, Kute Nakat mengalami masa kejayaannya yang kedua. Hasil pertanian melimpah ruah. Ekonomi lancer, sehingga Kute Nakata man, damai dan tenteram di bawah kepemimpinannya. Demikian juga dengan perkembangan agama Islam, masyarakat Kute Nakat pada saat itu begitu patuhnya menjalankan ajaran-ajaran Islam. Kute Nakat mdenjadi tujuan para perantau yang datang dari penjuru daerah. Mereka berduyun-duyun datang ke Kute Nakat untuk mencari penghidupan. Karena Kute Nakat adalah daerah yang makmur, aman dan tenteram. Dan pada tahun 1538 M, Muhammad Ishak Singa Alit meninggal dunia. Beliau digantikan oleh putranya yang bernama MUHAMMAD SAID PUTTING ALAM.
Pada tahun 1539 M, Muhammad Said Puting Alam pergi mengembara bersama adiknya yang bernama Muhammad Ali Dalom Sunting. Mereka mengembara dalam rangka menyebarkan agama Islam. Dalam pengembaraannya mereka masukm ke Kute Belida. Namun pada saat itu mereka tidak menemui pemimpin Kute Belida. Karena tidak bertemu dengan penguasa Kute Belida, mereka lantas kembali ke Kute Nakat.
Sekembalinya Muhammad Said Putting Alam dan adiknya ke Kute Nakat, didapatinya Kute Nakat sedang diserbu oleh perampok-perampok yang berasal dari BESEMAH. Perampok-perampok tersebut menyerbu Kute Nakat dari empat penjuru angin secara serentak. Terjadi pertempuran yang sengit, mengadu kesaktian serta senjata pusaka dan kekuatan. Hulu balang-hulu balang Kute Nakat yang gagah berani melakukan perlawanan yang sengit. Mereka meneriakkan agar mrakyat Kute Nakat melwan para perampok dari Besemah.

Diceritakan pada saat itu ada seorang Hulu Balang Kute Nakat yang sakti Mandraguna, melakukan perlawanan tanpa mengenal lelah. Saat itu hulu balang Kute Nakat adalah Ratu Ranggan yang berasal Mataram. Ratu Ranggan adalah hulu balang kepercayaan Muhammad Said Putting Alam. Dimana saat Muhammad Said Puting sedang melakukan perjalanan, Ratu Ranggan diberi kepercayaan penuh untk menjaga dan memimpin Kute Nakat. Selanjutnya, karena jasa-jasa Ratu Ranggan, akhirnya ia dinikahkan dengan adik dari Muhammad Said Puting Alam yang bernama Puteri Melur Melani. Dari perkawinan mereka dikaruniai seorang putra dan seorang putri, yang masing-masing bernama RADEN RANGGA LAWE dan PUTRI SEKAR MERANTI.
Kembali lagi pada pertempuran antara rakyat Kute Nakat yang dipimpin oleh hulu baling Ratu Ranggan melawan perampok-perampok Besemah. Banyak sekali kerugian yang diderita akibat pertempuran itu. Baik harta maupun nyawa. Namun dengan kegigihannya, rakyat dan hulu balang Kute Nakat dapat memenangkan pertempuran itu. Banyak sekali para perampok yang terbunuh pada saat itu. Sedangkan yang selamat ditawan.
Muhammad Said Putting Alam setelah berkuasa di Kute Nakat, beliau menikah dengan seorang putri dari Kute Panang yang bernama DARA SERTANI. Dari pernikahannya beliau mendapatkan satu orang putri dan dua orang putra yang masing-masing bernama, PUTRI SURI SEKAR SARI, NAJAMUDDIN KUMBANG SERAMPU SAKTI dan ABDULLAH ULUNG SERAMPU PATI.
Putri Suri Sekar Sari menikah dan menetap di Kute Betung Komering, Najamuddin Kumbang Serampu Sakti menetap di Kute Nakat, sedangkan Abdullah Ulung Serampu Pati menetap di Kute Bukit Unggul dalam sungai Benakat.
Muhammad Said Puting Alam meninggal dunia pada tahun 1560 M. beliau digantikan oleh putranya yang bernama Najamuddin Kumbang Serampu Sakti.

Kini kita kembali lagi ketahun 1314 M. Pada masa itu seorang ulama yang bernama MUHAMMAD DAUD TEMENGGUNG bersama adiknya yang bernama MUHAMMAD ILYAS KUMBANG SAKTI datang berkunjung ke Kute Muahe Hening. Beliau adalah seorang ulama yang datang dari Jumbai (Jambi). Beliau bertemu dengan Syeh Jalaluddin yang saat itu sedang berkuasa di Kute Muahe Hening. Muhammad Daud Temenggung dan adiknya Muhammad Iliyas Kumbang Sakti meminta petunjuk kepada Syekh Jalaluddin. Dengan senang hati Syekh Jalaluddin memberikan petunjuk kepada mereka berdua. Syeh Jalaluddin menyarankan agar mereka  mencari tempat untuk penyebaran agama Islam. Karena dengan demikian Agama Islam dapat berkembang.
            Atas petunjuk dari Syekh Jalaluddin mereka berdua lantas kembali melanjutkan perjalanannya guna penyebaran agama Islam. Dalam perjalanan inilah mereka melihat ada sekumpulan pohon bambu yang sangat luas pada sebuah tanjungan sungai lematang. Mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri hutan bambu tersebut.
            Akhirnya mereka sepakat untuk membuka hutan bambu tersebut. Bekerja sama mereka terus membabat hutan itu. Selanjutnya mereka memutuskan untuk tetap tinggal disana.
            Setelah selesai membuka hutan bambu tersebut, mereka member nama tempat itu dengan nama KUTE MUMPE LIBAU (yang sekarang bernama dusun Kepur). Mumpe Libau adalah buluh atau bambu yang luas.
            Muhammad Daud Temenggung menikahi seorang puteri yang berasal dari pulau Jawa. Dari pernikahannya mereka dikaruniai tiga orang putra dan seorang putri.
Putra pertama diberi nama MUHAMMAD YA’KUP TANDING SAKTI, putra kedua diberi nama MUHAMMAD ALI RAMA SAKTI, putra ketiga bernama MUHAMMAD FADIL RATU SEMPURNA dan puterinya bernama ZAKIAH.
Muhammad Daud Temenggung meninggal dunia pada tahun 1408. Sedangkan kedudukannya digantikan oleh putranya yang bernama Muhammad Ya’kup Tanding Sakti. Muhammad Ya’kup Tanding Sakti menikah dengan seorang putri dari Kute Keban Batu (sekarang bernama Marga Gedung Agung – Lahat), yang bernama SITI SANIDAH. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai dua orang putra dan seorang putri. Masing-masing bernama MUHAMMAD RASYID SYAH ALAM, ABDUL HAMID SENDANG MARGA dan untuk nama putri beliau penulis kurang paham.
Tahun 1425 Muhammad Ya’kup Tanding Sakti meninggal dunia. Beliau digantikan oleh putra pertamanya yang bernama Muhammad Rasyid Syah Alam.

Marilah kita tinggalkan sejenak kisah Muhammad Rasyid Syah Alam dan kita  kembali lagi ke tahun 1317 M. Dimana pada tahun itu, salah seorang murid dari Syekh Angkasa Ibrahim Papa HAMBALI ARYA BUMI mulai memerintah dan menguasai KUTE PAHANG (sekarang bernama Tanjung Agung).  Diceritakan bahwa Hambali Arya Bumi menikahi seorang puteri yang berasal dari KUTE DARE SALAM yang bernama HABSAH. Dari pernikahan itu mereka dikaruniai seorang putra dan seorang putri yang di beri nama GAZALI SURYA ALAM dan PUTERI INDAH SERUNI. Konon menurut kabar Puteri Indah Seruni sangat terkenal karena kecantikan dan keelokan wajahnya. Sehingga, siapapun yang memandangnya, hatinya akan tergetar.
Hambali Surya Bumi meninggal pada tahun 1421 M. Selanjutnya tampuk pemerintahan digantikan oleh putranya yang bernama Gazali Surya Alam. Edangkan adikya (Putri Indah Seruni) menikah dan menetap di GRESIK (pulau Jawa). Hambali Surya Bumi menikahi seorang putrid yang berasal dari Kute Tanjungan Raman (Tanjung Raman) yang bernama KURAISIN. Mereka dikaruniai dua orang putra, yaitu MUHAMMAD FAISOL PRABU ALAM dan MUHAMMAD FAQIH AGUNG SAKTI ANOM.

Kembali lagi ke Kute Nakat. Pada tahun 1467 M, seorang pemuda yang bernama ABDULLAH RATU ANGKASA dating berkunjung ke Kute Nakat, yang mana pada masa itu dikuasai oleh anak tunggal Muhammad Isya, yaitu Abdul somad Sakti Dalam. Atau yang lebih terkenal dengan Sholeh Ambar. Sedangkan Muhammad Isya sendiri meninggal pada tahun 1503 M.
Diceritakan bahwa Abdullah Ratu Angkasa pernah mengembara dan berkunjung ke KUTE BABATAN (kini bernama Muara Gula, marga TPP Bubung Kecamatan Muara Enim). Sampai akhirnya Abdullah Ratu Angkasa menikahi seorang putri yang bernama HALIMAH yang berasal dari Kute Tanjungan Raman. Abdullah Ratu Angkasa dan Halimah mendapatkan seorang putra dan seorang putri yang mereka beri nama MUHAMMAD SOLIKHIN dan SALBIYAH. Sebagai mana diceritakan bahwa Salbiyah terkenal juga akan kecantikan wajahnya.
Abdullah Ratu Angkasa bersama dengan Muhammad Isya Ratu Anom pernah mengembara dan mencari tempat menetap guna kepentingan Abdullah Ratu Angkasa dalam penyebaran agama Islam. Yang mana konon dalam pengembaraan mereka, dalam sebuah hutan rimba, mereka singgah dan meneliti hutan rimba tersebut. Mereka lantas sepakat untuk membuka hutan rimba yang belum mereka kenal tersebut. Mereka membabat bersih hutan tersebut. Setelah bersih, ternyata hutan tersebut terletak di atas sebuah bukit serta disekitar hutan tersebut terdapat pula tanah yang berbukit-bukit.

Tempat tersebut lantas mereka beri nama KUTE DEWA. Yang maknanya adalah tempat yang tertinggi. Untuk pertama kalinya Abdullah Ratu Angkasa bertani atas petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh Muhammad Isya Ratu Anom. Sebelum lahan pertanian yang digarap oleh Abdullah Ratu Angkasa berhasil atau panen, segala kebutuhan Abdullah Ratu Angkasa di tanggung oleh Muhammad Isya Ratu Anom. Abdullah Ratu Angkasa melaksanakan secara teratur. Maka pada masa itu, banyak pula para perantau yang datang ke Kute Dewa (sekarang Pagar Dewa) sekedar mencari penghidupan dan menetap disana. Pada umumnya para pendatang itu dapat menerima ajaran-ajaran yang diajarkan oleh Abdullah Ratu Angkasa. Mereka menjadi murid-murid pengikut-pengikut setia Abdullah Ratu Angkasa.
Abdullah Ratu Angkasa pada tahun 1492 M pernah mengembara dan berkunjung ke Kute Ayik Itam (sekarang bernama Air Hitam marga Penukal, Talang Ubi). Beliau mengadakan pembicaraan dengan penguasa Kute Ayik Itam, yaitu Muhammad Daud Ratu Sakti. Pada masa itu Muhammad Daud lah yang memimpin Kute Ayik Itam. Mereka sepakat untuk bersama-sama menyebarkan ajaran-ajaran Islam.
Bersama-sama mereka lantas pergi mengembara dalam rangka memperluas ajaran Islam. Mereka pernah berkunjung ke Kute Semandah (Semendo Darat). Mereka tidak lama berada di Kute Semandah. Dan meneruskan perjalanan mereka ke Kute Alam 9 (Pagar Alam). Yang mana pada masa itu Kute Alam sedang mengalami masa kejayaannya. Panen berlimpah dan Kute Alam aman dan makmur. Rakyatnya hidup sejahtera.
Mereka terus menyebarkan ajaran-ajaran agama Islam. Dan sekembalinya mereka dari perjalanan ke Kute Alam, mereka singgah di Kute Lawang Kidul (hingga sekarang nama Lawang Kidul masih dipakai). Mereka lantas meneruskan perjalanan pulang ke Kute Dewa.
Tanpa disangka-sangka dan tak terduga, ternyata sebelum mereka sampai, perampok-perampo dari Besemah telah terlebih dahulu masuk ke Kute Dewa. Pertempuran pun tak dapat dielakkan lagi antara hulu balang Kute Dewa yang bernama ABDUL FATTAH SURYA DILAGA melawan RINJAN ANOM, yaitu pemimpin para perampok Besemah. Pada pertempuran itu mereka mengadu kesaktian demi kesaktian. Senjata pusaka melawan senjata pusaka. Hingga mengadu kekuatan one by one.
Alhasil dalam pertempuran itu Rinjan Anom kalah dan mengakui kekalahannya. Dan pada saat itu juga Rinjan Anom di Islamkan. Rinjan Anom takluk dan mengakui kekalahannya.
Rinjan anom berjanji dan bersumpah bahwa segala perintah Abdul Fattah Surya Dilaga akan di patuhinya dan akan menjalankan apapun yang diperintahkan Abdul Fattah Surya Dilaga. Dan selanjutnya disebutkan bahwa Rinjan Anom setelah diIslamkan namanyapun diubah dengan nama Islam, yaitu ABDUL SAID TANDING KUMALA.
Pada saat Rinjan Anom dapat ditaklukkan oleh Abdul Fattah Surya Dilaga, dua orang anak buah Rinjan Anom melarikan diri ke hutan. Mereka kabur entah kemana.
Kembali lagi ke Abdullah Ratu Angkasa. Pada tahun 1495, Abdullah Ratu Angkasa dan Muhammad Kabul Agung Sakti pernah berkunjung ke Kute Ayek Itam. Ini adalah kunjungan  yang kedua kalinya bagi Abdullah Ratu Angkasa. Yang mana kunjungan pertama yaitu pada tahun 1492 M, seperti yang diceritakan diatas. Adapun perjalanan ini adalah tak lain dalam rangka memperluas ajaran Islam dan agama Islam. Namun pada kunjungannya kali ini mereka tidak erjumpa dengan penguasa Kute Ayek Itam. Dikarenakan beliau sedang dalam perjalanan untuk penyebaran Islam.  Maka Abdullag Ratu Angkasa dan Muhammad Kabul Agung Sakti melanjutkan perjalanannya ke Kute Belida.
Mereka menemui penguasa Kute Belida yang sedang berkuasa pada masa itu. Abdullah Ratu Angkasa dan Muhammad Kabul Sakti mengadakan pembicaraan dengan penguasa Kute Belida (mengenai nama penguasa Kute Belida pada saat itu tidak dijelaskan dalam sejarah ini).
Pada saat sedang berlangsung pembicaraan antara Abdullah Ratu Angkasa, Muhammad Kabul Agung Sakti dan penguasa Kute belida, tiba-tiba dating seorang pemuda yang bernama SIDI BENAR RATU DIPADANG  yang berasal dari Kute Pagar Huyung dan sorang Ulama bernama MUHAMMAD JAUHARI yang berasal dari KOMERING. Dalam pembicaraan itu, mereka sepakat untuk bersama-sama berkunjung ke Kute Nakat dan Kute Dewa.
Singkat cerita, setelah berpamitan dengan penguasa Kute Belida, mereka (Ratu Dipadang atau Sidi Benar, Abdullah Ratu Angkasa, Muhammad Jauhari dan Muhammad Kabul Agung Sakti) melanjutkan perjalanannya. Tujua perjalanan mereka yang pertama adalah Kute Dewa. Dalam kunjungan ini mereka melihat-lihat keberhasilan yang telah dicapai di Kute Dewa. Yang mana pada saat itu hasil pertanian berlimpah dan Kute Dewa dalam keadaan makmur, aman, damai dan sejahtera. Demikian pula kehidupan beragama di Kute Dewa, berjalan seperti yang diharapkan. Rakyat Kute Dewa  patuh dalam menjalankan ajaran-ajaran Islam yang diajarkan oleh Abdullah Ratu Angkasa.
Setelah selesai berkunjung ke Kute Dewa, selanjutnya mereka melanjutkan perjalanan ke Kute Nakat, seperti yang telah direncanakan sebelumnya. Mereka disambut hangat oleh penguasa Kute Nakat pada masa itu. Adapun kunjungan ke Kute Nakat tak ubahnya seperti kunjungan mereka sebelumnya. Mereka melihat-lihat dan berkeliling Kute Nakat dan melihat keberhasilan yang daicapai di Kute Nakat. Pada saat itu Kute Nakat sedang berada di masa jayanya. Panen melimpah, rakyat sejahtera serta Kute nakat menjadi tempat tujuan para perantau untuk mencari penghidupan. Demikian juga ajaran-ajaran agama islam, sangat terasa diterapkan di Kute Nakat. Mereka menyaksikan sendiri bagaimana keadaan di Kute Nakat pada saat itu. Mereka sangat kagum dengan kemajuan yang dicapai di Kute Nakat.
Ajaran-ajaran agama Islam terasa kental sekali diterapkan di Kute Nakat. Sehingga rakyat Kute Nakat pada masa itu benar-benar hidup sejahtera lahir dan bathin. Tertib, aman dan makmur. Itulah yang mereka lihat di Kute Nakat pada masa itu.
Melihat kenyataan-kenyataan yang ada didepan mata mereka, Sidi Benar Ratu Dipadang dan Muhammad Jauhari tergakgum-kagum. Mereka memuji Tuhan Yang Maha Esa atas Karunia yang telah dilimpahkanNya. Dibawah kepemimpinan Muhammad Kabul Agung Sakti, Kute Nakat telah sukses di segala bidang. Baik moril maupun materiil.
Selanjutnya Sidi Benar Ratu Dipadang dan Muhammad Jauhari melanjutkan perjalanan mereka. Mereka berencana untuk mengunjungi Kute Tanjung Iran dan Kute Dareselam.
Abdullah Ratu Angkasa meninggal dunia pada tahun 1511 M. Hingga disini tampuk kepemimpinan Kute Dewa tidak jelas siapa yang meneruskan. Dan pada tahun 1544 M, MUHAMMAD ADAM MERAJE SANTRI berkunjung ke Kute Dewa. Dalam kisahnya MUHAMMAD ADAM MERAJE SANTERI dalah berasal dari pulau Jawa.



Hingga disini sejarah Benakat Sepanjang Masa terputus. Kami akan terus mencari tahu dan terus menggali informasi serta data-data yang otentik yang berkaitan dengan SEJARAH BENAKAT. Agar dikemudian hari anak cucu kita mengetahui dengan jelas serta tidak meraba-raba tentang sejarah leluhurnya. Dari sejarah Benakat Sepanjang Masa ini mudah-mudahan kita dapat merenungkan sejenak. Berfikir dengan logika. Karena terkadang kita masih mendengar kesimpang siuran Sejarah Benakat yang beredar di masyarakat kita.
Sejarah ini telah diakui dan telah dipatenkan pada Departemen P dan K pada medio   1975. Atas kerja sama beberapa pihak yang antara lain :
1.      M.YUSUF ISMAIL                     : Pasirah Kepala Marga Benakat
2.      M.NUR ANSYORI (NURANI)  : Penterjemah naskah-naskah kuno



Terima Kasih
Devianto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar